Laki-laki dan perempuan yang beruntung

By Dana Anwari. Orang beruntung adalah lelaki dan perempuan yang hampir terjerumus zina lalu Allah memilih mereka agar terpelihara keimanannya karena mereka selalu mengingat Tuhannya.

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang lalim tiada akan beruntung.
Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.
(QS Yusuf:23-24)

And she, in whose house he was, sought to seduce him (to do an evil act), and she closed the doors and said: "Come on, O you." He said: "I seek refuge in Allâh (or Allâh forbid)! Truly, he (your husband) is my master! He made my living in a great comfort! (So I will never betray him). Verily, the Zâlimûn (wrong and evil-doers) will never be successful."
And indeed she did desire him, and he would have inclined to her desire, had he not seen the evidence of his Lord. Thus it was, that We might turn away from him evil and illegal sexual intercourse. Surely, he was one of Our chosen (guided) slaves.
http://suksespernikahan.blogspot.com
*
Read more...

Cara mendapatkan bayi perempuan atau laki-laki dengan usaha dan doa


By Dana Anwari. Target dari perkawinan laki-laki dengan perempuan adalah mendapatkan anak laki-laki atau perempuan. Bila sudah dikarunai anak laki-laki, tentu pasangan suami-istri mengharapkan dikaruniai anak perempuan. Begitu pun sebaliknya. Maka mereka pun berusaha dan berdoa.

Bagi orang beriman, doa adalah senjata perjuangan untuk meraih sesuatu yang mereka idam-idamkan. Usaha saja tidak cukup tanpa diimbangi dengan doa permohonan kepada Sang Khaliq, Allah Yang Maha Pencipta, yang menciptakan nenek mereka, orang tua mereka, diri mereka, dan anak-anak mereka.

Ingatlah selalu firman-Nya dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 186: Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Melalui doa dan berbagai usaha yang tidak membuat Allah murka, keinginan pasangan suami-istri mendapatkan bayi laki-laki atau perempuan insya Allah dikabulkan. Hindari usaha yang diharamkan-Nya, dan lakukanlah usaha yang dihalalkan-Nya.
Seperti mengatur seberapa masuknya penis suami ke dalam vagina istri. Jika menginginkan anak berjenis kelamin perempuan, masuknya penis setengah dalam dapat memperbesar peluang untuk mendapatkannya. Logikanya, ketika sperma disemprotkan dengan perjalanan yang lebih jauh, maka sperma XY (si pelari cepat) akan lebih dulu gugur dan menyisahkan sperma XX untuk mencapai sel telur dalam kondisi selamat.

Bacalah berita yang bagus di Tabloid Keluarga Nova berjudul "Pilih-pilih jenis kelamin anak" di bawah ini:

Ingin anak laki-laki atau perempuan? Konon, sekarang ingin anak laki-laki atau perempuan bisa diupayakan. Simak saja beberapa cara yang bisa dilakukan.
Banyak pasangan menginginkan buah hatinya lahir dengan jenis kelamin tertentu. Apalagi bila suatu pasangan sudah diberi momongan sebelumnya, berharap kelahiran jenis kelamin anak keduanya dapat sesuai dengan keinginannya. Alasannya klasik, agar lengkap.
Sayangnya, prosedur bayi tabung yang memungkinkan untuk itu tak bisa dilakukan dalam upaya mendapatkan anak dengan jenis kelamin tertentu. Selain mahal, etika kedokteran memang tak mengijinkan melakukan bayi tabung di luar alasan membantu upaya memiliki anak.
Namun, tak perlu berkecil hati. Masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan anak laki-laki atau perempuan. Mulai dari sistem kalender sampai memanfaatkan cuka atau soda kue sebagai pembasuh vagina, dapat dilakukan untuk mengupayakannya.
Inilah yang berusaha disampaikan dr. Ryan Thamrin,Sp.OG dari klinik Arthasari Cibubur dan dr.Anthony R.Widjaja,SpB dari Fakultas Kedokteran Universitas Tri Sakti Jakarta.

Cuka dan Soda Kue
Mengupayakan memiliki momongan laki-laki ataupun perempuan konon bisa dengan menggunakan cuka atau soda kue sebagai pembasuh vagina. Menurut Ryan, hal ini dapat saja dilakukan karena sperma XY (pembawa gen laki-laki)dan XX (pembawa gen perempuan) memiliki reaksi tertentu terhadap keasaman dan suasana basa dalam vagina.
Secara ilmiah, sperma XX memang memiliki sifat yang lebih tahan terhadap keasaman dibanding sperma XY. Oleh karena itu, jika vagina dalam suasana asam, sperma XY bisa terseleksi lebih dulu sebelum mencapai sel telur dalam rahim.
Nah, untuk mendapatkan suasana asam pada vagina, dapat dengan cara membasuhkan campuran air dengan sedikit cuka pada vagina sebelum melakukan hubungan intim dengan pasangan. Dengan demikian akan memperbesar peluang didapatkan anak perempuan.
Sedangkan untuk mengupayakan jenis kelamin anak laki-laki, bisa diupayakan dengan membasuhkan campuran air dan soda kue pada vagina sebelum berhubungan intim. Soda kue bisa menciptakan suasana basa pada vagina. Dengan menggunakan soda kue sebagai pembasuh vagina, sperma XY yang lebih tahan akan basa dapat membuahi sel telur dalam rahim.

Setengah Masuk Atau Dalam
Mengupayakan anak perempuan dan laki-laki bisa juga ditentukan dari seberapa dalam masuknya penis ke vagina. Menurut Ryan,hal ini berkaitan dengan karakter sperma XY yang sifatnya seperti 'pelari cepat' dan sperma XX yang bersifat seperti 'pelari maraton'.
Sperma XY yang berkarakter seperti pelari cepat umumnya memiliki stamina tak sekuat XX, tetapi bergerak lebih cepat untuk mencapai sasaran. Jika saat berhubungan intim penis suami masuk lebih dalam,maka dapat memperbesar peluang sperma XY sampai lebih dulu ke sel telur dan melakukan pembuahan. Maka dengan masuknya penis yang dalam ini, dapat memperbesar peluang didapatkan anak laki-laki.
Sedangkan sperma XX yang bergerak lebih lambat, memiliki stamina lebih kuat dari pada sperma XY. Sperma XX pun mampu bertahan lebih lama untuk mencapai sel telur dan melakukan pembuahan.
Jika menginginkan anak berjenis kelamin perempuan, masuknya penis setengah dalam dapat memperbesar peluang untuk mendapatkannya. Logikanya, ketika sperma disemprotkan dengan perjalanan yang lebih jauh, maka sperma XY (si pelari cepat) akan lebih dulu gugur dan menyisahkan sperma XX untuk mencapai sel telur dalam kondisi selamat.

Masa Subur
Memperhatikan masa subur dalam mengupayakan kehamilan juga dapat berpengaruh pada probabilitas jenis kelamin anak laki. Sel telur matang dapat bertahan selama 12 jam setelah dilepaskan dari ovarium. Atau, hal ini umum disebut sebagai masa ovulasi.
Sedangkan sperma dapat bertahan sampai sekitar 3 hari di dalam tubuh wanita.
Namun sekali lagi, dikaitkan dengan karakter dan ketahanan sperma XY dan XX, tentu tak seluruh sperma mampu bertahan selama kurun waktu itu di dalam rahim. Sperma XY yang memiliki sifat lebih cepat musnah akan tersortir lebih dulu dibanding sperma XX.
Oleh karena itu, berhubungan intim 1-2 hari sebelum masa ovulasi akan memperbesar kemungkinan mendapatkan anak perempuan. Dan berhubungan intim dalam masa 12 jam setelah sel telur matang dilepaskan, akan memperbesar kemungkinan mendapatkan anak laki-laki.

Daging dan Sayur
Mengupayakan jenis kelamin anak juga dapat dikaitkan dengan konsumsi jenis makanan tertentu. Misalnya jika ingin anak perempuan, istri harus lebih banyak makan daging dan suami lebih banyak makan sayuran.
Jika ingin anak laki-laki, sang istri harus lebih banyak makan sayuran sementara suami lebih banyak makan daging. Menurut Ryan, alasan konsumsi makanan tertentu ini tak ubahnya dengan membasuh vagina dengan cuka maupun soda kue. Intinya, sama-sama mengupayakan suasana asam ataupun netral pada vagina, sehingga didapat jumlah sperma XX dan XY yang lebih dominan.
Mengonsumsi lebih banyak sumber nabati seperti sayuran dibandingkan sumber protein hewani, dipercaya dapat mempengaruhi suasana vagina menjadi lebih netral. Sehingga, bila dikombinasi dengan suami yang mengonsumsi daging dapat meningkatkan produksi sperma, dan memperbesar kemungkinan didapat anak laki-laki.
Sedangkan jika istri mengonsumsi lebih banyak daging, kemudian akan meningkatkan suasana asam pada vagina. Dikombinasi dengan suami yang lebih banyak mengonsumsi sayuran yang dapat membuat produksi sperma tak setinggi bila mengonsumsi banyak protein hewani dapat meningkatkan kemungkinan didapatkan anak perempuan.

Sistim Kalender
Selain cara-cara yang dipaparkan sebelumnya, Anthony juga mengemukakan metode mendapatkan anak laki-laki maupun perempuan berdasarkan bulan-bulan tertentu. Metode ini didapatnya ketika belajar akupuntur di negeri Cina.
Setelah Anthony berhasil mengkonversi penanggalan Cina ke dalam kalender yang umum digunakan di Indonesia, didapatkan hasil berupa tabel. Cara menggunakannya, usia ibu + 1 lalu lihat pada kolom bagian usia diatas. Cari jenis kelamin anak yang diinginka, tarik ke kiri untuk mendapatkan bulan-bulan dilakukan pembuahan,
Misalnya, wanita berusia 20 tahun bisa mengupayakan mendapat bayi laki-laki pada bulan Januari(lihat tabel).
Untuk usia ibu, memang perlu ditambah satu karena tabel masih menggunakan hitungan usia berdasarkan kalender Cina.
Namun menurut Anthony, cara ini hanya efektif dilakukan pada wanita yang memiliki siklus menstruasi normal dan teratur, serta memiliki jeda sekitar 28 hari. Di luar itu, cara ini tak bisa dikatakan efektif, bahkan tidak dijamin keakuratannya.
Di samping itu, Anthony pun menyarankan agar sang suami turut menjaga kualitas spermanya dengan menjaga kesehatan dan menahan hasrat seksual sampai 3 hari menjelang ovulasi. Sehingga akan didapatkan jumlah sperma yang cukup untuk mengupayakan kehamilan. (Tabloid Nova 17 -23 November 2008)


Namun, kembali lagi, senjata yang paling ampuh untuk mendapatkan anak yang diinginkan adalah berdoa kepada Allah. Dan doa yang berhasil dikabulkan Allah adalah doa orang-orang yang mau mengikuti mau-Nya Allah.
Apa saja yang dimaui Allah kepada kita, pasangan suami istri?
Kerjakanlah perintah-Nya dan jauhilah larangan-Nya.
When My servants ask thee concerning Me, I am indeed close (to them): I respond to the prayer of every suppliant when he calleth on Me: Let them also, with a will, Listen to My call, and believe in Me: That they may walk in the right way.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS 2:186)
suksespernikahan.blogspot.com
*
Read more...

Hikmah pernikahan Nabi Muhammad saw dengan Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy


By Dana Anwari. Zainab bin Jahsy menyebut pernikahannya dengan Nabi Muhammad saw sungguh istimewa. "Rasulullah, aku beda dengan istri-istrimu yang lain. Mereka dikawinkan oleh ayah, saudara atau sanak keluarga. Sementara aku, Allah lah yang mengawinkan aku denganmu," kata Zainab.

Hikmah peristiwa pernikahan Rasulullah saw dengan Zainab binti Jahsy memang memberikan pelajaran berharga. Pertama, Zainab yang merupakan keturunan bangsawan oleh Nabi Muhammad saw diminta menikah dengan anak angkat beliau, seorang budak bernama Zaid bin Haritsah. Pernikahan ini untuk meruntuhkan tradisi bodoh bahwa orang kaya tidak boleh menikah dengan orang miskin, atau keturunan kasta bangsawan tidak boleh menikahi kasta rakyat jelata.

Kedua. Ketika akhirnya Zainab bercerai dengan Zaid, kemudian Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk menikahi Zainab. Pernikahan itu diperintahkan Allah untuk meruntuhkan tradisi kala itu yang melarang seseorang menikahi mantan istri anak angkatnya.
Al Quran sudah menjelaskan orang-orang yang tidak boleh dinikahi dan boleh dinikahi sebagaimana dibaca di surat An Nisa:23-24:

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,
Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Dan barang siapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang mereka pun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kesulitan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antaramu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."



Ketiga. Pernikahan Rasulullah saw dengan Zainab untuk membuktikan bahwa manusia harus malu kepada Tuhannya dibandingkan kepada manusia. Manusia harus tunduk kepada perintah Tuhannya dan bukan tunduk kepada tradisi manusia yang turun temurun tetapi tidak bersumber kepada aturan Allah. Manusia jangan takut menegakkan kebenaran Allah, karena Allah lah yang berhak ditakuti dan bukannya manusia.

Ketika Rasulullah saw diperintahkan untuk menikahi Zainab, Nabi saw mengkuatirkan tindakannya itu akan membuat citra dirinya buruk. Wahyu Allah kepada Nabi Muhammad saw dalam surat Al Ahzab ayat 37: "Sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti."

Dr. Syauqi Abu Khalil menulis dengan bagus tuduhan musuh-musuh Islam yang menyatakan Nabi Muhammad saw tidak tahu diri karena menyuruh anak angkatnya menceraikan istrinya untuk beliau nikahi, dalam buku Al-Islam fi Qafshi Al-Ittiham, penerbit Dar Al-Fikr.
Buku ini diterbitkan Pustaka Al-Kautsar (http://www.kautsar.co.id) dengan judul Islam Menjawab Tuduhan. Penerjemah Nasruddin Ibnu Atha, Lc dan editor Muhammad Ihsan, Lc. Selengkapnya, simaklah bab yang membahas itu; dan buku ini layak dibeli.

Perkawinan Nabi dengan Zainan binti Jahsy dimotifi oleh kepentingan syara. Pada masa jahiliyah, Arab mengharamkan pernikahan dengan istri anak angkat. Menurut mereka anak angkat tidak ubahnya dengan anak kandung. Rasul menikahi Zainab sebagai penolakan atas pengharaman tersebut. Meski sempat kuatir dengan mulut-mulut Yahudi dan munafik yang menuduhnya melakukan penginjak-injakan atas tradisi. Namun Allah menenangkannya dengan firman-Nya, "Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi." (QS Al Ahzab:37)

Di samping itu, pernikahan Nabi dengan Zainab merupakan bentuk keinginannya untuk mengembalikan kehormatan Zainab setelah menikah dengan seorang budak. Zainab adalah wanita terhormat, puteri Umaimah binti Abdul Muthalib, bibi Nabi.
Sebelumnya Nabi melamar Zainab untuk Zaid bin Haritsah, budaknya. Tentu pernikahan ini membuat keberatan pihak keluarganya. "Aku tidak akan pernah menikahinya. Aku adalah wanita terhormat keturunan Abdu Syams," ujar Zainab.

Abdullah, juga sangat sulit menerima pernikahan saudarinya yang terhormat dengan seorang budak. Namun Nabi bersikeras menikahkan Zaid dengan Zainab. Allah berfirman, "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (QS Al Ahzab: 36)

Dengan pernikahan ini, Nabi menghendaki adanya penghapusan status sosial. Namun Zainab menampakkan kebencian yang hebat di hadapan Zaid. Ia kemudian mengadukannya kepada Rasulullah yang menyuruhnya bersabar dan tegar. "Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah". (QS Al Ahzab:37)

Namun Allah menginstruksikan kepada Rasul agar Zaid menceraikan Zainab. Kemudian mengawininya sebagai solusi dari perseteruan keduanya dan upaya mengembalikan kehormatan Zainab setelah menikah dengan seorang budak. Dari sudut syara jelas bagaimana Islam memposisikan status budak.

Orientalis banyak mengarang cerita cinta yang melatar-belakangi pernikahan Muhammad dengan Zainab. Kenyataannya, Muhammad bermaksud menyembuhkan hati Zainab yang terluka. Sebab keterpaksaan harus menikahi orang yang tidak dicintainya demi melaksanakan titah Allah dan Rasul-Nya. Agar semua dapat melihat nilai-nilai demokrasi yang membedakan Islam.

Secara jujur, Ibnu al-Atsir mengungkapkan, "Allah memerintahkan Rasulullah untuk menikahi Zainab, bekas istri Zaid, dalam rangka melegalkan perkawinan dengan istri anak angkat. Kekhawatirkan Muhammad atas protes keras musuh-musuhnya terhadap pelanggaran tradisi yang dilakukannya, memaksa Muhammad untuk tidak membeberkan perintah perkawinan itu. Realitas ini kemudian dinyatakan dalam firman Allah yang memberikan teguran kepada Muhammad, "Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi." (QS Al Ahzab:37)

Ayat ini jelas menyatakan bahwa Rasulullah mengatakan kepada Zaid, "Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah." Namun perselisihan Zaid dan Zainab terus memarah. Bahwa perceraian dan instruksi Allah kepada Rasulullah untuk mengawini Zainab didasari oleh hukum yang hendak membatalkan pelarangan menikah dengan anak angkat.

Namun Rasulullah mengkhawatirkan tindakannya kelak menuai protes keras banyak kalangan. Sebab dirinya telah melecehkan tradisi yang turun temurun. Kemudian Rasulullah memilih untuk menyembunyikannya. "Sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti."

Rasulullah khawatir orang-orang akan mengata-ngatainya, "Muhammad telah mengawini istri anaknya." Tindakannya telah benar-benar membatalkan pengharaman perkawinan dengan anak angkat. "Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah." (QS Al Ahzab:5) "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS Al Ahzab:40)

Keadilan Islam sangat nyata dalam pernikahan Muhammad dengan wanita bekas istri salah seorang budaknya. Ketika Nabi melamar Zainab, sepupu dan wanita Arab terhormat untuk menikah dengan Zaid, budaknya. Jika benar Nabi menggilai Zainab, tentunya ia tidak akan membiarkan Zaid mengawininya. Nabi yang begitu mengenal Zainab sejak bocah hingga tumbuh dewasa.

Orientalis mengarang cerita ketertarikan Nabi dengan Zainab dan cerita-cerita lainnya yang tidak dapat terjadi pada mukmin kebanyakan kini. Bahwa seorang mukmin terlarang untuk menatap isteri tetangga atau teman dekatnya. Bagaimana mungkin larangan itu dilakukan oleh Rasulullah. Maha guru yang mengajarkan untuk selalu menjaga diri dan merasa dimonitor Allah.
Cerita-cerita itu tidak lebih sekadar kebodohan-kebodohan orientalis yang tidak mengetahui bahwa Zainab masih memiliki hubungan keluarga dengan Nabi dan tumbuh besar di lingkungannya. Pernikahan tersebut pada prinsipnya adalah pelaksanaan titah Allah. Kemudian sebagai pelipur hati yang lara. Jadilah Zainab, ibu kaum mukminin dan istri Muhammad, Rasulullah.
suksespernikahan.blogspot.com
*
Read more...

Menikah dan melahirkan anak serta membesarkannya adalah suatu kenikmatan rasa kasih sayang yang luar biasa


By Dana Anwari. Tuhan memberikan kita rezeki naluri kesenangan seksual. Dari naluri kesenangan seksual itu, Allah memberikan sepasang suami istri seorang atau lebih anak sebagai buah pernikahan yang diridai-Nya.

Kendati rezeki kesenangan seksual adalah karunia-Nya, namun tidak serta merta kesenangan itu dicari dan dinikmati secara sembarangan. Cara terbaik memenuhi hawa nafsu seksual adalah dengan menikah antara wanita dan pria; dan bukannya pernikahan atau hubungan seksual antara wanita dengan wanita atau pria dengan pria.

Jauhilah zina, karena zina adalah menikmati kesenangan seksual yang menafikkan petunjuk Tuhan. Cara yang terbaik juga untuk mencegah zina adalah dengan berpuasa dan banyak berzikir kepada Allah Yang Suci agar terpelihara kehormatannya.

Didiklah anak-anak kita agar kelak menikmati kesenangan seksualnya dengan cara yang diridai Tuhannya, Allah Yang Maha Menghadirkan mereka ke dunia ini. Mengharapkan rida-Nya adalah tanda kita bersyukur kepada-Nya.

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS Al Ahzab:35)

Hadis riwayat Abdullah bin Mas`ud ra.: Dari Alqamah ia berkata: Aku sedang berjalan bersama Abdullah di Mina lalu ia bertemu dengan Usman yang segera bangkit dan mengajaknya bicara. Usman berkata kepada Abdullah: Wahai Abu Abdurrahman, inginkah kamu kami kawinkan dengan seorang perempuan yang masih belia? Mungkin ia dapat mengingatkan kembali masa lalumu yang indah.
Abdullah menjawab: Kalau kamu telah mengatakan seperti itu, maka Rasulullah saw. pun bersabda: Wahai kaum pemuda! Barang siapa di antara kamu sekalian yang sudah mampu memberi nafkah, maka hendaklah ia menikah, karena sesungguhnya menikah itu lebih dapat menahan pandangan mata dan melindungi kemaluan (alat kelamin). Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penawar bagi nafsu.
(792 - HR Bukhari Muslim)
suksespernikahan.blogspot.com
*
Read more...

Cara mengatasi tuduhan berzina yang dialami Aisyah, istri Nabi Muhammad saw

By Dana Anwari. Dituduh berzina. Digunjingkan berselingkuh. Dan gunjingan itu disebarkan oleh teman-teman kita sendiri. Dan tuduhan itu datang dari orang-orang yang dekat dengan kita sendiri, bahkan orang-orang itu termasuk yang sering kita bantu kesulitannya. Sungguh berat menghadapi cobaan semacam itu.

Tuduhan berzina dan digunjingkan selingkuh pernah dialami oleh Aisyah, istri Nabi Muhammad saw. "Hai Aisyah, sesungguhnya telah sampai kepadaku bermacam tuduhan tentang dirimu. Jika engkau memang bersih, Allah pasti akan membersihkan dirimu dari tuduhan-tuduhan itu. Tetapi kalau engkau memang telah berbuat dosa, maka mohonlah ampun kepada Allah dan bertobatlah kepada-Nya. Sebab, bila seorang hamba mengakui dosanya kemudian bertobat, tentu Allah akan menerima tobatnya," begitu nasehat Rasulullah saw kepada istrinya.

Simaklah kisahnya di Kitab Shahih Imam Bukhari dan Muslim (1582) :

Hadis riwayat Aisyah ra., istri Nabi saw. ia berkata: Apabila Rasulullah saw. hendak keluar dalam suatu perjalanan selalu mengadakan undian di antara para istri beliau dan siapa di antara mereka yang keluar undiannya, maka Rasulullah saw. akan berangkat bersamanya.
Aisyah berkata: Lalu Rasulullah saw. mengundi di antara kami untuk menentukan siapa yang akan ikut dalam perang dan ternyata keluarlah undianku sehingga aku pun berangkat bersama Rasulullah saw. Peristiwa itu terjadi setelah diturunkan ayat hijab (Al-Ahzab ayat 53) di mana aku dibawa dalam sekedup dan ditempatkan di sana selama perjalanan kami.

Pada suatu malam ketika Rasulullah saw. selesai berperang lalu pulang dan kami telah mendekati Madinah, beliau memberikan aba-aba untuk berangkat. Aku pun segera bangkit setelah mendengar mereka mengumumkan keberangkatan lalu berjalan sampai jauh meninggalkan pasukan tentara. Seusai melaksanakan hajat, aku hendak langsung menghampiri unta tungganganku namun saat meraba dada, ternyata kalungku yang terbuat dari mutiara Zifar putus. Aku pun kembali untuk mencari kalungku sehingga tertahan karena pencarian itu. Sementara orang-orang yang bertugas membawaku mereka telah mengangkat sekedup itu dan meletakkannya ke atas punggung untaku yang biasa aku tunggangi karena mereka mengira aku telah berada di dalamnya.
Ia menambahkan: Kaum wanita pada waktu itu memang bertubuh ringan dan langsing tidak banyak ditutupi daging karena mereka hanya mengkomsumsi makanan dalam jumlah sedikit sehingga orang-orang itu tidak merasakan beratnya sekedup ketika mereka mengangkatnya ke atas unta. Apalagi ketika itu aku anak perempuan yang masih belia. Mereka pun segera menggerakkan unta itu dan berangkat.
Aku baru menemukan kalung itu setelah pasukan tentara berlalu. Kemudian aku mendatangi tempat perhentian mereka, namun tak ada seorang pun di sana. Lalu aku menuju ke tempat yang semula dengan harapan mereka akan merasa kehilangan dan kembali menjemputku. Ketika aku sedang duduk di tempatku rasa kantuk mengalahkanku sehingga aku pun tertidur. Ternyata ada Shafwan bin Muaththal As-Sulami Az-Dzakwani yang tertinggal di belakang pasukan sehingga baru dapat berangkat pada malam hari dan keesokan paginya ia sampai di tempatku.
Dia melihat bayangan hitam seperti seorang yang sedang tidur lalu ia mendatangi dan langsung mengenali ketika melihatku karena ia pernah melihatku sebelum diwajibkan hijab. Aku terbangun oleh ucapannya, "inna lillaahi wa inna ilaihi raji`uun" pada saat dia mengenaliku. Aku segera menutupi wajahku dengan kerudung dan demi Allah, dia sama sekali tidak mengajakku bicara sepatah kata pun dan aku pun tidak mendengar satu kata pun darinya selain ucapan "inna lillahi wa inna ilaihi raji`uun". Kemudian ia menderumkan untanya dan memijak kakinya, sehingga aku dapat menaikinya. Dan ia pun berangkat sambil menuntun unta yang aku tunggangi hingga kami dapat menyusul pasukan yang sedang berteduh di tengah hari yang sangat panas.
Maka celakalah orang-orang yang telah menuduhku di mana yang paling besar berperan ialah Abdullah bin Ubay bin Salul.

Sampai kami tiba di Madinah dan aku pun segera menderita sakit setiba di sana selama sebulan. Sementara orang-orang ramai membicarakan tuduhan para pembuat berita bohong padahal aku sendiri tidak mengetahui sedikit pun tentang hal itu. Yang membuatku gelisah selama sakit adalah bahwa aku tidak lagi merasakan kelembutan Rasulullah saw. yang biasanya kurasakan ketika aku sakit. Rasulullah saw. hanya masuk menemuiku, mengucapkan salam, kemudian bertanya: Bagaimana keadaanmu?
Hal itu membuatku gelisah, tetapi aku tidak merasakan adanya keburukan, sampai ketika aku keluar setelah sembuh bersama Ummu Misthah ke tempat pembuangan air besar di mana kami hanya keluar ke sana pada malam hari sebelum kami membangun tempat membuang kotoran (WC) di dekat rumah-rumah kami. Kebiasaan kami sama seperti orang-orang Arab dahulu dalam buang air. Kami merasa terganggu dengan tempat-tempat itu bila berada di dekat rumah kami.
Aku pun berangkat dengan Ummu Misthah, seorang anak perempuan Abu Ruhum bin Muthalib bin Abdi Manaf dan ibunya adalah putri Shakher bin Amir, bibi Abu Bakar Sidik. Putranya bernama Misthah bin Utsatsah bin Abbad bin Muththalib. Aku dan putri Abu Ruhum langsung menuju ke arah rumahku sesudah selesai buang air. Tiba-tiba Ummu Misthah terpeleset dalam pakaian yang menutupi tubuhnya sehingga terucaplah dari mulutnya kalimat: Celakalah Misthah!
Aku berkata kepadanya: Alangkah buruknya apa yang kau ucapkan! Apakah engkau memaki orang yang telah ikut serta dalam perang Badar?
Ummu Misthah berkata: Wahai junjunganku, tidakkah engkau mendengar apa yang dia katakan?
Aku menjawab: Memangnya apa yang dia katakan?
Ummu Misthah lalu menceritakan kepadaku tuduhan para pembuat cerita bohong sehingga penyakitku semakin bertambah parah.
Ketika aku kembali ke rumah, Rasulullah saw. masuk menemuiku, beliau mengucapkan salam kemudian bertanya: Bagaimana keadaanmu? Aku berkata: Apakah engkau mengizinkan aku mendatangi kedua orang tuaku? Pada saat itu aku ingin meyakinkan kabar itu dari kedua orang tuaku. Begitu Rasulullah saw. memberiku izin, aku pun segera pergi ke rumah orang tuaku.
Sesampai di sana, aku bertanya kepada ibu: Wahai ibuku, apakah yang dikatakan oleh orang-orang mengenai diriku?
Ibu menjawab: Wahai anakku, tenanglah! Demi Allah, jarang sekali ada wanita cantik yang sangat dicintai suaminya dan mempunyai beberapa madu, kecuali pasti banyak berita kotor dilontarkan kepadanya.
Aku berkata: Maha suci Allah! Apakah setega itu orang-orang membicarakanku?
Aku menangis malam itu sampai pagi air mataku tidak berhenti mengalir dan aku tidak dapat tidur dengan nyenyak. Pada pagi harinya, aku masih saja menangis.
Beberapa waktu kemudian Rasulullah saw. memanggil Ali bin Abu Thalib dan Usamah bin Zaid untuk membicarakan perceraian dengan istrinya ketika wahyu tidak kunjung turun. Usamah bin Zaid memberikan pertimbangan kepada Rasulullah saw. sesuai dengan yang ia ketahui tentang kebersihan istrinya (dari tuduhan) dan berdasarkan kecintaan dalam dirinya yang ia ketahui terhadap keluarga Nabi saw. Ia berkata: Ya Rasulullah, mereka adalah keluargamu dan kami tidak mengetahui dari mereka kecuali kebaikan. Sedangkan Ali bin Abu Thalib berkata: Semoga Allah tidak menyesakkan hatimu karena perkara ini, banyak wanita selain dia (Aisyah). Jika engkau bertanya kepada budak perempuan itu (pembantu rumah tangga Aisyah) tentu dia akan memberimu keterangan yang benar.
Lalu Rasulullah saw. memanggil Barirah (jariyah yang dimaksud) dan bertanya: Hai Barirah! Apakah engkau pernah melihat sesuatu yang membuatmu ragu tentang Aisyah?
Barirah menjawab: Demi Zat yang telah mengutusmu membawa kebenaran! Tidak ada perkara buruk yang aku lihat dari dirinya kecuali bahwa Aisyah adalah seorang perempuan yang masih muda belia, yang biasa tidur di samping adonan roti keluarga lalu datanglah hewan-hewan ternak memakani adonan itu.
Kemudian Rasulullah saw. berdiri di atas mimbar meminta bukti dari Abdullah bin Ubay bin Salul. Di atas mimbar itu, Rasulullah saw. bersabda: Wahai kaum muslimin, siapakah yang mau menolongku dari seorang yang telah sampai hati melukai hati keluarga? Demi Allah! Yang kuketahui pada keluargaku hanyalah kebaikan. Orang-orang juga telah menyebut-nyebut seorang lelaki yang kuketahui baik. Dia tidak pernah masuk menemui keluargaku (istriku) kecuali bersamaku.
Maka berdirilah Saad bin Muaz Al-Anshari seraya berkata: Aku yang akan menolongmu dari orang itu, wahai Rasulullah. Jika dia dari golongan Aus, aku akan memenggal lehernya dan kalau dia termasuk saudara kami dari golongan Khazraj, maka engkau dapat memerintahkanku dan aku akan melaksanakan perintahmu.
Mendengar itu, berdirilah Saad bin Ubadah. Dia adalah pemimpin golongan Khazraj dan seorang lelaki yang baik tetapi amarahnya bangkit karena rasa fanatik golongan. Dia berkata tertuju kepada Saad bin Muaz: Engkau salah! Demi Allah, engkau tidak akan membunuhnya dan tidak akan mampu untuk membunuhnya!
Lalu Usaid bin Hudhair saudara sepupu Saad bin Muaz, berdiri dan berkata kepada Saad bin Ubadah: Engkau salah! Demi Allah, kami pasti akan membunuhnya! Engkau adalah orang munafik yang berdebat untuk membela orang-orang munafik.
Bangkitlah amarah kedua golongan yaitu Aus dan Khazraj, sehingga mereka hampir saling berbaku-hantam dan Rasulullah saw. masih berdiri di atas mimbar terus berusaha meredahkan emosi mereka mereka hingga mereka diam dan Rasulullah saw. diam.

Sementara itu, aku menangis sepanjang hari, air mataku tidak berhenti mengalir dan aku pun tidak merasa nyenyak dalam tidur. Aku masih saja menangis pada malam berikutnya, air mataku tidak berhenti mengalir dan juga tidak merasa enak tidur. Kedua orang tuaku mengira bahwa tangisku itu akan membelah jantungku.
Ketika kedua orang tuaku sedang duduk di sisiku yang masih menangis, datanglah seorang perempuan Ansar meminta izin menemuiku. Aku memberinya izin lalu dia pun duduk sambil menangis. Pada saat kami sedang dalam keadaan demikian, Rasulullah saw. masuk. Beliau memberi salam, lalu duduk. Beliau belum pernah duduk di dekatku sejak ada tuduhan yang bukan-bukan kepadaku, padahal sebulan telah berlalu tanpa turun wahyu kepada beliau mengenai persoalanku.
Rasulullah saw. mengucap syahadat pada waktu duduk kemudian bersabda: Selanjutnya. Hai Aisyah, sesungguhnya telah sampai kepadaku bermacam tuduhan tentang dirimu. Jika engkau memang bersih, Allah pasti akan membersihkan dirimu dari tuduhan-tuduhan itu. Tetapi kalau engkau memang telah berbuat dosa, maka mohonlah ampun kepada Allah dan bertobatlah kepada-Nya. Sebab, bila seorang hamba mengakui dosanya kemudian bertobat, tentu Allah akan menerima tobatnya.

Ketika Rasulullah saw. selesai berbicara, air mataku pun habis sehingga aku tidak merasakan satu tetespun terjatuh. Lalu aku berkata kepada ayahku: Jawablah untukku kepada Rasulullah saw. mengenai apa yang beliau katakan. Ayahku menyahut: Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah saw. Kemudian aku berkata kepada ibuku: Jawablah untukku kepada Rasulullah saw.! Ibuku juga berkata: Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah saw.
Maka aku pun berkata: Aku adalah seorang perempuan yang masih muda belia. Aku tidak banyak membaca Alquran. Demi Allah, aku tahu bahwa kalian telah mendengar semua ini, hingga masuk ke hati kalian, bahkan kalian mempercayainya. Jika aku katakan kepada kalian, bahwa aku bersih dan Allah pun tahu bahwa aku bersih, mungkin kalian tidak juga mempercayaiku. Dan jika aku mengakui hal itu di hadapan kalian, sedangkan Allah mengetahui bahwa aku bersih, tentu kalian akan mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menemukan perumpamaan yang tepat bagiku dan bagi kalian, kecuali sebagaimana dikatakan ayah Nabi Yusuf: Kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.
Kemudian aku pindah dan berbaring di tempat tidurku. Demi Allah, pada saat itu aku yakin diriku bersih dan Allah akan menunjukkan kebersihanku. Tetapi, sungguh aku tidak berharap akan diturunkan wahyu tentang persoalanku. Aku kira persoalanku terlalu remeh untuk dibicarakan Allah Taala dengan wahyu yang diturunkan. Namun, aku berharap Rasulullah saw. akan bermimpi bahwa Allah membersihkan diriku dari fitnah itu.
Rasulullah saw. belum lagi meninggalkan tempat duduknya dan tak seorang pun dari isi rumah ada yang keluar, ketika Allah Taala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Tampak Rasulullah saw. merasa kepayahan seperti biasanya bila beliau menerima wahyu, hingga bertetesan keringat beliau bagaikan mutiara di musim dingin, karena beratnya firman yang diturunkan kepada beliau. Ketika keadaan yang demikian telah hilang dari Rasulullah saw. (wahyu telah selesai turun), maka sambil tertawa perkataan yang pertama kali beliau ucapkan adalah: Bergembiralah, wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah membersihkan dirimu dari tuduhan.
Lalu ibuku berkata kepadaku: Bangunlah! Sambutlah beliau!
Aku menjawab: Demi Allah, aku tidak akan bangun menyambut beliau. Aku hanya akan memuji syukur kepada Allah. Dialah yang telah menurunkan ayat Alquran yang menyatakan kebersihanku. Allah Taala menurunkan ayat: Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golonganmu juga, dan sepuluh ayat berikutnya. Allah menurunkan ayat-ayat tersebut yang menyatakan kebersihanku.

Abu Bakar yang semula selalu memberikan nafkah kepada Misthah karena kekerabatan dan kemiskinannya, pada saat itu mengatakan: Demi Allah, aku tidak akan lagi memberikan nafkah kepadanya sedikitpun selamanya, sesudah apa yang dia katakan terhadap Aisyah.
Sebagai teguran atas ucapan itu, Allah menurunkan ayat selanjutnya ayat: Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian, bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabat mereka, orang-orang miskin sampai pada firman-Nya: Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian. (Hibban bin Musa berkata: Abdullah bin Mubarak berkata: Ini adalah ayat yang paling aku harapkan dalam Kitab Allah).
Maka berkatalah Abu Bakar: Demi Allah, tentu saja aku sangat menginginkan ampunan Allah. Selanjutnya dia (Abu Bakar) kembali memberikan nafkah kepada Misthah seperti sediakala dan berkata: Aku tidak akan berhenti memberikannya nafkah untuk selamanya.

Aisyah meneruskan: Rasulullah saw. pernah bertanya kepada Zainab binti Jahsy, istri Nabi saw. tentang persoalanku: Apa yang kamu ketahui? Atau apa pendapatmu?
Zainab menjawab: Wahai Rasulullah, aku selalu menjaga pendengaran dan penglihatanku (dari hal-hal yang tidak layak). Demi Allah, yang kuketahui hanyalah kebaikan.
Aisyah berkata: Padahal dialah yang menyaingi kecantikanku dari antara para istri Nabi saw. Allah menganugerahinya dengan sikap warak (menjauhkan diri dari maksiat dan perkara meragukan) lalu mulailah saudara perempuannya, yaitu Hamnah binti Jahsy, membelanya dengan rasa fanatik (yakni ikut menyebarkan apa yang dikatakan oleh pembuat cerita bohong). Maka celakalah ia bersama orang-orang yang celaka. (HR Bukhari dan Muslim: 1582)
suksespernikahan.blogspot.com
*


Read more...

Persetubuhan suami istri yang tidak diawali dengan doa menjadikan anak yang terlahirkan diganggu setan

By Dana Anwari. Bismillahi Allahumma jannibnasy syaithana wa jannibisy syaithana ma razaqtana. Itulah doa yang diajaran Nabi Muhammad saw kepada pasangan suami istri bila hendak bermesraan atau ML : making love -- dengan pasangan yang dinikahinya.

Kitab Hadis Imam Muslim mencatat (1369): Dari Ibnu Abbas ra, katanya Rasulullah saw bersabda, "Kalaulah mereka bila hendak bersetubuh membaca doa Bismillahi Allahumma jannibnasy syaithana wa jannibisy syaithana ma razaqtana (Dengan menyebut nama Allah. Wahai Allah, hindarkanlah kami dari gangguan setan, dan hindarkanlah setan dari anak yang Engkau kurniakan kepada kami), maka jika ditakdirkan Allah mereka memperoleh anak dari persetubuhan itu, setan tidak kuasa mengganggu anak itu selama-lamanya."

Sedangkan Kitab Hadis Imam Bukhari mencatat (1599): Dari Ibnu Abbas ra, katanya: Rasulullah saw bersabda: "Kalau salah seorang kamu sebelum bersetubuh dengan istrinya berdoa; "Dengan nama Allah! Wahai Tuhan kami, jauhkanlah setan dari pada anak kami, dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau kurniakan kepada kami", lalu ditakdirkan bagi suami-istri itu atau ditetapkan bagi keduanya seorang anak, maka anak itu tidak akan dapat dirusak setan selama-lamanya."

Sekarang bagaimana dengan kita, pasangan suami istri, yang baru mengetahui doa ajaran Nabi Muhammad saw itu?
Semoga Ya Allah ya Afuww, Tuhan kita Yang Maha Memaafkan, memaafkaan ketidak-tahuan kita dahulu. Semoga kita masih diberikan kesempatan dan kemampuan oleh Allah untuk mendidik anak-anak kita menjadi anak yang saleh sebagaimana dimaui-Nya. Amin.

Lalu bagaimana dengan pasangan suami istri yang mengetahui ajaran doa bersetubuh itu tetapi mengingkarinya?

Seorang teman bercerita, ada kenalannya yang coba menguji keampuhan doa tersebut. Ketika mereka melakukan sanggama untuk "membuat" anak yang pertama, dia tidak mau membaca doa itu. Dan ternyata hasilnya sungguh mengecewakan. Anak yang terlahir sebagai anak pertama itu sulit diatur, bahkan berani melawan. Anak itu malas mandi, kadang hingga berhari-hari. Anak yang kini sudah usia sekolah dasar itu bahkan tidak mau sekolah lagi. Bapak ibunya kewalahan mengatur anaknya, dan malah diatur oleh anaknya.

Ketika pasangan suami istri itu berniat mendapatkan anak lagi, mereka lalu membaca doa bersenggama ajaran Nabinya, Nabi Muhammad saw. Dan hasilnya anak kedua itu sungguh berbeda dengan anaknya yang pertama. Anak kedua ini patuh kepada orang tuanya. Bahkan anak ini rajin belajar mengaji di TPA (Taman Pendidikan Al Quran), dan belajar mendirikan shalat tanpa harus terus diingatkan oleh orang tuanya.

Pasangan suami istri itu pun menyesal. Suami itu menyesal bukan hanya karena tidak membaca doa permintaan kepada Ya Allah ya Khaliq, Tuhan Yang Maha Menciptakan kala memohon agar dikaruniai anaknya yang pertama. Tetapi, ia menyesal karena telah mengingkari ajaran agamanya, padahal dia sudah mengetahuinya. Bukankah itu berarti ia menantang Tuhannya Yang Maha Berkuasa, Ya Allah ya Malik?

Mendengar cerita itu tentu kita takjub dan bertanya-tanya: "Benarkah itu ada?" Tapi, perlukah kita bertemu dengan orang yang mengalami kisah pilu itu dulu lalu baru kita mempercayai ajaran doa Rasulullah saw? Bukankah yang lebih penting kini adalah bagaimana caranya kita selalu ingat dan mau membaca doa ajaran Nabi Muhammad saw itu kala kita melakukan hubungan pasutri dengan suami atau istri kita?
suksespernikahan.blogspot.com
*
Read more...

Menjadikan pernikahan sebagai ibadah kepada Allah


By Dana Anwari. Bukankah melakukan pernikahan bagi orang beriman adalah salah satu cara beribadah kepada Tuhannya: Allah Yang Maha Esa, Maha Tunggal tanpa sekutu?

Pernikahan antara laki-laki dan perempuan adalah ibadah kepada Allah swt, karena itu merupakan perintah Allah yang kita jalani sebagai bukti ketakwaan kita.
Seperti tertuang dalam kitab yang menjadi pedoman bagi manusia dan petunjuk serta rahmat bagi kaum yang meyakini, Kitab Suci Al Quran, surat An Nur ayat 32-33: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.”


And let those who find not the financial means for marriage keep themselves chaste, until Allâh enriches them of His Bounty.

Dan seperti diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, bersumber dari Abu Hurairah (831): Nabi saw. bersabda: “Wanita itu dinikahi karena empat perkara; karena harta bendanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang beragama, maka kamu akan beruntung.”

Abu Hurairah, may Allah be pleased with him, reported: Allah's Messenger (may peace be upon him) said: A woman may be married for four reasons: for her property, her status, her beauty and her religion; so try to get one who is religious, may your hand be besmeared with dust (may you enjoy welfare).

Maka, seorang pria mencari wanita untuk menjadi istrinya, dan seorang wanita mencari pria untuk menjadi suaminya, janganlah dengan pertimbangan kesenangan seksual semata. Tetapi, pertimbangkanlah ketaatannya kepada agama Allah yang sempurna: Islam. Karena, wanita itu akan menjadi ibu dari anak-anakmu yang ingin kau bahagiakan di jalan Tuhan; dan pria itu akan menjadi ayah dari anak-anakmu yang ingin kau bahagiakan di jalan Tuhan.

Bila ingin anak-anak kita menjadi orang-orang yang bahagia dunia akhirat, maka satu-satunya cara adalah dengan mendidiknya sesuai fitrah kemanusiaannya yakni beragama tauhid. Agama tauhid yang sempurna adalah Islam yang secara tegas mengikrarkan “tiada Tuhan selain Allah”.

Masih ingatkah kita dengan firman Tuhan yang menegaskan agama Islam adalah agama yang sempurna? Semoga dengan begitu akan sempurna pernikahan yang dijalani setiap laki-laki dan wanita yang mengimani Islam. Amin.
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. PADA HARI INI TELAH KUSEMPURNAKAN UNTUK KAMU AGAMAMU, DAN TELAH KU-CUKUPKAN KEPADAMU NIKMAT-KU, DAN TELAH KU-RIDAI ISLAM ITU JADI AGAMA BAGIMU. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Maidah:3)

This day, I have perfected your religion for you, completed My Favour upon you, and have chosen for you Islâm as your religion.
suksespernikahan.blogspot.com
*
Read more...

SUCCESS LINK